Televisi Memasuki Usia Senja, Benarkah?

Televisi Memasuki Usia Senja, Benarkah?

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata ‘digital’? Bagi sebagian media konvensional, digital bisa berarti ancaman sekaligus tantangan.

Sudah menjadi rumus umum bahwa nafas media sangat dipengaruhi oleh pemasangan iklan. Munculnya media berbasis digital dan semakin berkembangnya social media, membuat pemasang iklan semakin banyak mengalihkan alokasi belanja mereka ke platform yang lebih dinamis dan lebih diminati masyarakat tersebut.


Media Cetak dan Radio, Nasibmu Kini

Media cetak mungkin lebih awal merasakan kekhawatiran ini. Tidak sedikit teman-teman dari media cetak seringkali berdebar saat berangkat kerja, khawatir akan adanya efisiensi jumlah pekerja atau bahkan media yang menaungi mereka gulung tikar. Sebut saja Suara Pembaruan, Hai, Rolling Stone dan banyak media cetak lainnya yang akhirnya mengubah haluan, sebagian perlahan bertransformasi sebagai media digital (online) atau bahkan terpaksa mengundurkan diri dari percaturan industri media.

Radio tidak kalah kalang kabut dengan hadirnya sosok medium ‘digital’ ini, meski masih tampak lebih percaya diri dengan pernyataaan bahwa, “Selama masih ada kemacetan, industri radio masih akan survive.” Meski pernyataan itu mungkin ada benarnya, namun sesungguhnya pelaku radio makin kesulitan memutar otak untuk menarik pendengar baru dan mempertahankan billing dari para pemasang iklan. Radio bahkan mulai kehilangan jati dirinya yang semula menjadi ‘wadah pencetak’ para broadcaster unggul, kemudian justru ikut latah seperti televisi dengan mengadopsi artis atau selebriti sebagai ujung tombak corong mic alias penyiar andalan mereka, demi menaikkan jumlah pendengar dan pemasang iklan. Berbeda dengan media cetak yang lebih mudah beralih ke online, radio memerlukan strategi lebih dalam untuk bisa bertahan hidup. Tidak hanya media online saja yang menjadi saingan terberat radio, tapi juga penyedia layanan playlist yang semakin mudah diakses dan memberi berbagai penawaran menarik bagi pendengarnya.

 

Senjakala Televisi

Apakah situasi yang dialami oleh media cetak dan radio juga dirasakan oleh televisi?

Televisi yang selama ini dapat disebut sebagai ‘raja’ penarik iklan, kini juga mulai ketar-ketir. Di tengah Sharing Session ID COMM #SSIDCOMM, minggu lalu, President Director PT. Indonesia Entertainmen Produksi (IEP) Indra Yudhistira Ramadhan, mengatakan bahwa televisi juga mulai memasuki masa senja. Menurutnya, saat ini televisi masih memegang peran dominan dengan penetrasi pada masyarakat sekitar 95%. Meski begitu, pesatnya akses internet telah menciptakan perubahan konsep masyarakat dalam menikmati tayangan broadcast atau penyiaran.

“Jika dulu televisi mempunyai kuasa untuk membuat penikmatnya menanti-nanti program mereka, sekarang penonton bisa memilih sendiri jenis program atau tayangan yang mereka suka, termasuk kapan waktu menontonnya”, kata Indra.

Indra memaparkan, saat ini 40% atau setara dengan 140 juta penduduk di Indonesia sudah memiliki akses internet. Penduduk Indonesia menyumbang 19% terhadap total populasi dunia yang mempunyai akses internet, meski kualitas aksesnya berbeda dengan negara-negara lainnya.

Indonesia pun dijuluki sebagai ibukota social media dunia, karena 75 juta interaksi internet terjadi di Indonesia. “Indonesia tercatat sebagai negara yang kerap membuat trending topic di social media”, ujar Indra. Kemudahan akses akan internet ini kemudian membuat masyarakat Indonesia mempunyai kuasa atas konten yang ingin mereka nikmati. “Misalnya untuk tahu siapa yang keluar dari Indonesian Idol, kita tidak perlu menunggu jam tayang di televisi, cukup tunggu youtube-nya saja dan tonton kapan saja”, kata Indra.

Bagi para penyuka film atau drama berseri, saat ini penyedia layanan konten, seperti Netflix, Amazon dan Viu, juga sangat gencar memberikan penawaran kepada masyarakat. Layaknya radio, televisi mulai tergerus dengan keberadaan penyedian konten kreatif. “Bukan tidak mungkin dalam 5 sampai 10 tahun lagi, industri televisi akan hilang”, kata Indra. Televisi kini dituntut untuk melakukan transformasi dengan mengubah konsep siarannya dan merambah medium digital, tentunya dengan tetap menyajikan program atau konten yang diminati masyarakat.

Perubahan ini perlahan juga membuat para pemasang iklan di televisi mengalihkan diri dengan beriklan pada konten-konten digital yang ditonton oleh banyak pihak dan punya skala ekonomi cukup besar. Meski demikian menurut Indra, saat ini para pengiklan masih menggunakan televisi sebagai sarana untuk mengiklankan produk mereka karena jangkauannya yang demikian massif dan dampaknya yang besar.

Namun ia juga mengakui bahwa di masa mendatang, persoalan iklan ini tetap perlu diantipasi oleh teman-teman yang berkecimpung di industri televisi. “Perubahan ini sangat pesat, oleh karena itu televisi perlu mulai mengubah diri menjadi penyedia konten dan mempersiapkan diri sebagai praktisi digital campaign”, ujar Indra.

Di akhir #SSIDCOMM Indra juga menegaskan, siapa yang paling siap untuk menghadapi perkembangan yang luar biasa dan cepat inilah yang akan menjadi pemenang. Siapa pun itu, mereka harus punya kemampuan beradaptasi dengan cepat.

Dewi Bastina, Senior Associate ID COMM

Category : Communication